ASI Dapat Melindungi Anak dari Gangguan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD)

gangguan hiperaktivitas dan defisit perhatian
Kita tahu bahwa menyusui memiliki dampak positif pada perkembangan dan kesehatan anak, termasuk diantaranya perlindungan terhadap penyakit. Baru-baru ini para peneliti dari Tel Aviv University telah menunjukkan bahwa ASI juga dapat membantu melindungi anak dari Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) atau dalam bahasa Indonesianya gangguan hiperaktivitas dan defisit perhatian (GHDP), yaitu suatu gangguan neurobehavioral yang paling sering didiagnosis pada anak-anak dan remaja.

Gangguan hiperaktivitas dan defisit perhatian (GHDP) ini ditandai dengan rentang perhatian yang buruk yang tidak sesuai dengan perkembangan atau adanya gejala hiperaktivitas dan impulsivitas yang tidak sesuai dengan usia. Gejala ini harus ada paling sedikit 6 bulan dan terjadi pada usia sebelum 7 tahun dan gejala-gejala tersebut terdapat pada dua situasi atau lebih.

Untuk menentukan apakah gangguan ADHD dapat dikaitkan dengan pemberian ASI, Dr. Aviva Mimouni-Bloch, dari Fakultas Kedokteran Tel Aviv University yang juga Kepala Pusat Perkembangan Saraf Anak di Rumah Sakit Loewenstein, bersama para peneliti lain melakukan studi retrospektif pada tiga kelompok anak: kelompok yang telah didiagnosis dengan ADHD, saudara dari mereka yang didiagnosis dengan ADHD, dan kelompok kontrol anak-anak tanpa ADHD.

Para peneliti menemukan hubungan yang jelas antara pemberian ASI dan kemungkinan untuk terkena ADHD, bahkan ketika faktor risiko khas tetap dipertimbangkan. Anak-anak yang diberi susu botol pada usia tiga bulan tiga kali lebih mungkin untuk menderita ADHD daripada mereka yang diberi ASI selama periode yang sama. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Jurnal Breastfeeding Medicine.

Genetika dan Lingkungan


Dalam studinya, para peneliti membandingkan riwayat menyusui anak-anak berumur  6 sampai 12 tahun di Children Medical Center Schneider di Israel. Kelompok ADHD terdiri dari anak-anak yang telah didiagnosis ADHD di rumah sakit, kelompok kedua termasuk saudara dari pasien ADHD, dan kelompok kontrol termasuk anak-anak tanpa masalah neurobehavioral yang telah dirawat di klinik terkait.

Selain menggambarkan kebiasaan menyusui selama tahun pertama kehidupan anaknya, para orang tua juga menjawab kuesioner rinci tentang data medis dan demografis yang mungkin juga berdampak pada perkembangan ADHD, termasuk status perkawinan dan pendidikan orang tua, masalah kesehatan selama kehamilan seperti hipertensi atau diabetes, berat lahir anak, dan link genetik untuk ADHD.

Walaupun telah memasukkan semua faktor risiko kedalam variabel penelitian, peneliti menemukan bahwa anak-anak dengan ADHD kebanyakan tidak diberikan ASI pada tahun pertama hidup mereka dibandingkan anak-anak di kelompok lain. Pada tiga bulan, hanya 43 persen anak-anak dalam kelompok ADHD diberi ASI dibandingkan dengan 69 persen dari kelompok saudara kandungnya dan 73 persen dari kelompok kontrol. Pada enam bulan, hanya 29 persen dari kelompok ADHD yang diberi ASI, dibandingkan dengan 50 persen dari kelompok saudara kandung dan 57 persen dari kelompok kontrol.

Salah satu elemen yang unik dari penelitian ini adalah dimasukkannya kelompok saudara kandung dari penderita ADHD, kata Dr. Mimouni-Bloch. Meskipun pada dasarnya para ibu akan menyusui sama untuk semua anak-anaknya, namun seringkali sulit untuk diterapkan. Temperamen beberapa anak mungkin akan lebih sulit untuk disusui daripada saudara mereka.

Perlindungan Tambahan


Sementara para peneliti belum tahu mengapa menyusui memiliki dampak pada perkembangan ADHD (beberapa berpendapat bisa karena ASI itu sendiri, ada juga yang beranggapan karena ikatan khusus yang dibentuk antara ibu dan bayi selama menyusui), mereka percaya penelitian ini menunjukkan bahwa menyusui dapat memiliki efek perlindungan terhadap perkembangan gangguan ADHD ini, dan dapat diperhitungkan sebagai keuntungan biologis tambahan untuk menyusui.


Dr. Mimouni-Bloch berencana untuk melakukan studi lebih lanjut tentang menyusui dan ADHD, memeriksa anak-anak yang beresiko tinggi untuk ADHD sejak lahir dan menindaklanjutinya dalam interval enam bulan sampai enam tahun, untuk memperoleh data lebih lanjut tentang fenomena tersebut.
Share this article :
 
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. info-kes.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger