Mengalami Masalah Gawat Darurat? Hubungi Call Center 119

Di Indonesia, walaupun fasilitas Instalasi Gawat Darurat (IGD) sudah sangat umum ditemui di setiap rumah sakit, namun proses penanganannya masih perlu peningkatan. Sekaligus meningkatnya jumlah kegawatdaruratan sehari-hari dan bencana alam yang terjadi di Indonesia. Hal ini menyadarkan kita semua perlunya menata sistem pelayanan kesehatan kegawatdaruratan secara efektif, efisien dan terstruktur. Sistem yang dibuat untuk mempermudah masyarakat mendapatkan layanan kesehatan gawat darurat di Rumah Sakit dengan segera.

Sebenarnya tahun 2000 Kementerian Kesehatan sudah memulai konsep Masyarakat Sehat dan Aman (Safe Community) yang diaplikasikan dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) yang terdiri dari SPGDT (S) Sehari-hari dan SPGDT (B) Bencana. Namun dalam pelaksanaanya terus-menerus dilakukan uji coba dan evaluasi, hasilnya terdapat berbagai hambatan diantaranya belum tersedia layanan telekomunikasi atau call center yang memberikan akses gratis kepada masyarakat.

Kemudian tanggal 13 September 2012 melalui surat Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 486/M.KOMINFO/09/2012 menetapkan kode akses panggilan darurat 119 bahwa call center yang berlaku secara nasional, sehingga masyarakat Indonesia dimana saja dapat mengakses langsung 119 (tanpa kode area) secara gratis.

Dirjen Bina Upaya Kesehatan, Prof. dr. Akmal Taher, Sp.U (K) menyampaikan layanan ini pertama kali diuji coba di DKI Jakarta, kemudian selama dua tahun dilakukan pengembangan untuk memperluas menjadi layanan nasional yang bekerjasama dengan sepuluh provider telekomunikasi. “Ketika masyarakat menggunakan layanan ini, maka petugas call center akan menginformasikan rumah sakit mana yang dapat menangani masalahnya dan call center akan langsung terhubung dengan data dari sejumlah rumah sakit dari ketersediaan ICU sampai daya tampung rumah sakit,” ungkap Prof. Akmal.

Dengan terbentuk jejaring SPGDT melalui call center diperlukan penguatan SPGDT (S) melalui peran Pemerintah Daerah untuk memulai penyiapan Fasyankes dari pelayanan dasar sampai rujukan.

Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan, dr. Chairul Radjb Nasution menambahkan call center ini merupakan salah satu unsur pelayanan untuk mempermudah akses pelayanan penderita gawat darurat. Dengan adanya sistem ini, diharapkan dapat memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mendapat pertolongan saat terjadi kondisi gawat darurat.

Dengan adanya call center yang dibuka oleh penyelenggara telekomunikasi maka dilakukan perjanjian kerja sama antara Kementerian Kesehatan dengan sepuluh penyelenggara telekomunikasi, yaitu PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT. Indosat Tbk, PT. Telekomunikasi Seluler, PT. Axis Telekom Indonesia, PT. Smartfren Telecom Tbk, PT. XL Axiata Tbk, PT. Bakrie Telecom Tbk, PT. Smart Telecom Tbk, PT. Sampoerna Telekomunikasi Indonesia, dan PT. Hutchison 3 Indonesia.

Kode akses 119 yang tidak berbayar bagi pelanggan PT. Telekomunikasi Indonesia, sedangkan untuk penyelenggara telekomunikasi lainnya, diberlakukan tarif normal bagi penggunanya, sehingga Perjanjian Kerja Sama antara Kementerian Kesehatan dan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk dibuat tersendiri dan terpisah dari penyelenggara telekomunikasi lainnya. Diharapkan, sembilan penyelenggara lain dapat segera menyesuaikan dengan PT. Telekomunikasi terkait pembebasan biaya.

**Berita ini disiarkan oleh Subbagian Hubungan Masyarakat Ditjen Bina Upaya Kesehatan (http://www.depkes.go.id/).


Share this article :
 
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. info-kes.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger