Pengobatan Kanker Payudara


Sebuah tim multidisiplin akan dilibatkan dalam perawatan pasien kanker payudara. Tim tersebut dapat terdiri dari seorang ahli onkologi, ahli radiologi, ahli bedah spesialis kanker, perawat spesialis, ahli patologi, ahli radiologi, radiografer, dan ahli bedah rekonstruktif. Kadang-kadang tim juga mungkin termasuk terapis okupasi, psikolog, ahli gizi, dan ahli terapi fisik.
Tim akan mempertimbangkan beberapa faktor ketika memutuskan pengobatan yang terbaik bagi pasien, seperti:
  • Jenis kanker payudara
  • Tahap dan stadium dari kanker payudara - seberapa besar tumor, apakah ia telah menyebar, dan jika telah menyebar, seberapa jauh
  • Ada atau tidak sel-sel kanker yang sensitif terhadap hormon
  • Kesehatan pasien secara keseluruhan
  • Usia pasien (Apakah ia telah melalui menopause?)
  • Preferensi pasien sendiri
 Pilihan utama pengobatan kanker payudara adalah:
  • Terapi radiasi (radioterapi)
  • Bedah
  • Terapi biologi (terapi obat yang ditargetkan)
  • Terapi Hormon
  • Kemoterapi
 Operasi

Lumpectomy
Pengangkatan tumor dan sedikit jaringan sehat di sekitarnya. Pada kanker payudara, prosedur ini sering disebut operasi payudara-sparing. Jenis operasi ini mungkin dianjurkan jika tumor berukuran kecil dan ahli bedah percaya bahwa akan mudah untuk memisahkan kanker dari jaringan di sekitarnya. Peneliti Inggris melaporkan bahwa sekitar seperlima dari pasien kanker payudara yang memilih operasi konservasi payudara bukan mastektomi akhirnya membutuhkan operasi kembali.

Mastektomi
Pengangkatan payudara. Mastektomi sederhana melibatkan mengangkat lobulus, saluran susu, jaringan lemak, puting, areola, dan kulit. Mastektomi radikal berarti juga menghilangkan otot dinding dada dan kelenjar getah bening di ketiak.


Biopsi kelenjar betah bening sentinel
Sebuah kelenjar getah bening diangkat. Jika kanker payudara telah mencapai kelenjar getah bening, ia dapat menyebar lebih jauh melalui sistem limfatik ke bagian lain dari tubuh.

Diseksi kelenjar getah bening aksila
Jika di kelenjar getah bening ditemukan memiliki sel-sel kanker, ahli bedah dapat merekomendasikan mengangkat beberapa kelenjar getah bening di ketiak.

Operasi rekonstruksi Payudara
Serangkaian prosedur bedah yang bertujuan untuk menciptakan payudara sehingga terlihat sebanyak mungkin seperti payudara lainnya. Prosedur ini dapat dilakukan pada waktu yang sama dengan mastektomi. Dokter bedah dapat menggunakan implan payudara, atau jaringan dari bagian lain dari tubuh pasien.

Terapi Radiasi (Radioterapi)

Radiasi dengan dosis terkontrol ditargetkan pada tumor untuk menghancurkan sel-sel kanker. Biasanya, radioterapi digunakan setelah operasi, sekaligus kemoterapi untuk membunuh sel-sel kanker yang mungkin masih berada di sekitar. Biasanya, terapi radiasi dilakukan sekitar satu bulan setelah operasi atau kemoterapi. Setiap sesi berlangsung beberapa menit, pasien mungkin memerlukan 3-5 sesi per minggu selama tiga sampai enam minggu.

Pasien akan diminta menentukan jenis terapi radiasi yang mungkin harus menjalani. Dalam beberapa kasus, radioterapi tidak diperlukan.

Jenis terapi radiasi meliputi:

Terapi radiasi Payudara
Setelah lumpectomy, radiasi diberikan pada jaringan payudara yang tersisa

Terapi radiasi dinding Dada
Terapi ini diterapkan setelah mastektomi

Boosting Payudara
Dosis tinggi terapi radiasi diaplikasikan ke tempat tumor yang telah diangkat melalui pembedahan. Penampilan payudara dapat berubah, terutama jika payudara pasien berukuran besar.

Terapi radiasi Getah bening
Radiasi ditujukan pada aksila (ketiak) dan daerah sekitarnya untuk menghancurkan sel-sel kanker yang telah mencapai kelenjar getah bening.

Brachytherapy Payudara
Ilmuwan di UC San Diego Moores Cancer Center menunjukkan bahwa pasien dengan kanker payudara tahap awal di saluran susu yang belum menyebar, tampaknya memperoleh manfaat setelah menjalani brachytherapy payudara dengan aplikator berbasis strut. Perawatan 5 hari ini diberikan kepada pasien setelah mereka menjalani operasi lumpectomy. Para peneliti menemukan bahwa wanita yang menerima brachytherapy payudara berbasis strut memiliki tingkat kekambuhan yang lebih rendah, serta efek samping yang lebih sedikit dan kurang parah. Efek samping dari terapi radiasi mungkin meliputi keletihan, lymphedema, penggelapan kulit payudara, dan iritasi pada kulit payudara.

Kemoterapi
Obat yang digunakan untuk membunuh sel-sel kanker disebut obat sitotoksik. Ahli onkologi dapat merekomendasikan kemoterapi jika ada risiko tinggi kekambuhan kanker, atau kanker menyebar di tempat lain di tubuh. Terapi ini disebut kemoterapi adjuvant.

Jika tumor berukuran besar, kemoterapi dapat diberikan sebelum operasi. Tujuannya adalah untuk mengecilkan tumor, sehingga membuat pengangkatan lebih mudah. Ini disebut kemoterapi neo-ajuvant.

Kemoterapi juga dapat diberikan jika kanker telah menyebar ke bagian lain dari tubuh. Kemoterapi juga berguna dalam mengurangi beberapa gejala yang disebabkan oleh kanker.
Kemoterapi dapat membantu produksi estrogen berhenti. Estrogen dapat mendorong pertumbuhan beberapa jenis kanker payudara.

Efek samping dari kemoterapi dapat berupa mual, muntah, kehilangan nafsu makan, kelelahan, mulut sakit, rambut rontok, dan kerentanan yang sedikit lebih tinggi terhadap infeksi. Banyak dari efek samping tersebut dapat dikontrol dengan obat-obat yang dapat diresepkan dokter. Wanita di atas 40 tahun bisa memasuki masa menopause dini.

Melindungi Kesuburan Wanita
Para ilmuwan telah merancang cara agresif untuk menyerang kanker dengan obat kemoterapi berbasis arsenik, yang jauh lebih aman pada ovarium. Para peneliti, dari Northwestern University Feinberg School of Medicine di Chicago, percaya metode baru mereka akan membantu melindungi kesuburan pasien wanita yang menjalani pengobatan kanker.

Para ilmuwan mengatakan mereka juga mengembangkan cara cepat untuk menguji obat kemoterapi yang ada dan efeknya pada fungsi ovarium, sehingga dokter dan pasien dapat membuat keputusan mengenai pengobatan yang meminimalkan kerusakan pada ovarium.

Mereka melaporkan temuannya dalam jurnal PLoS ONE (edisi Maret 2013). Para penulis mengklaim bahwa obat kemoterapi nanopartikel baru yang mereka rancang adalah obat kanker pertama yang diuji terhadap kesuburan menggunakan uji toksisitas cepat dan baru.
Walaupun banyak pasien kanker yang selamat sampai sekarang berkat kemajuan dalam terapi kanker, sejumlah besar pasien wanita masih menghadapi kehilangan kesuburan setelah menjalani kemoterapi tradisional.

Salah seorag peneliti dalam studi tersebut, Teresa Woodruff, mengatakan "Tujuan utama kami adalah untuk membuat obat cerdas yang membunuh kanker tetapi tidak menyebabkan kemandulan pada wanita muda."

Terapi Hormon (Terapi Pemblokiran Hormon)

Terapi ini digunakan untuk kanker payudara yang sensitif terhadap hormon. Jenis kanker yang sensitive terhadap hormon sering disebut sebagai kanker ER positif (estrogen receptor positive) dan positif PR (progesterone receptor positive). Tujuan terapi hormon adalah untuk mencegah kambuhnya kanker, biasanya digunakan setelah operasi, tapi kadang-kadang dapat digunakan terlebih dahulu untuk mengecilkan tumor.


Jika karena alasan kesehatan, pasien tidak dapat menjalani operasi, kemoterapi atau radioterapi, terapi hormon mungkin satu-satunya pengobatan yang diterimanya.

Terapi hormon tidak akan berpengaruh pada kanker yang tidak sensitif terhadap hormon.
Terapi hormon biasanya berlangsung hingga lima tahun setelah operasi.

Berikut adalah obat terapi hormon lazim digunakan:

Tamoxifen
Tamoxifen berfungsi mencegah estrogen mengikat sel-sel kanker ER-positif. Efek samping dari tamoxifen adalah termasuk perubahan dalam periode menstrusi, rasa panas, kenaikan berat badan, sakit kepala, mual, muntah, kelelahan, dan sakit sendi.

Sebuah biomarker pada pasien kanker payudara yang tidak merespon, atau yang telah menjadi resisten terhadap Tamoxifen telah ditemukan oleh para peneliti di University of Manchester, Inggris. Mereka mengatakan bahwa penemuan mereka akan membantu dokter memutuskan pasien mana yang cocok atau tidak untuk adjuvant (komplementer) terapi hormon dengan tamoxifen.

Aromatase inhibitor
Jenis obat ini dapat ditawarkan untuk wanita yang telah mengalami menopause. Ia berfungsi menghambat aromatase. Aromatase membantu produksi estrogen setelah menopause. Sebelum menopause, ovarium seorang wanita yang memproduksi estrogen. Contoh aromatase inhibitor termasuk letrozole, exemestane, dan anastrozole. Efek samping obat jenis ini termasuk mual, muntah, kelelahan, ruam kulit, sakit kepala, nyeri tulang, nyeri sendi, kehilangan libido, berkeringat, dan rasa panas.

Ablasi atau Penekanan Ovarium

Wanita pra-menopause memproduksi estrogen dalam ovarium mereka. Ablasi atau penekanan ovarium berusaha untuk menghentikan indung telur dari memproduksi estrogen. Ablasi dilakukan baik melalui operasi atau terapi radiasi - ovarium wanita tidak akan bekerja lagi, dan dia akan memasuki masa menopause dini.

Sebuah obat yang bersifat Luteinising Hormone-Releasing Hormone Agonist (LHRHa) yang disebut Goserelin akan menekan ovarium. Periode menstrusi pasien akan berhenti selama pengobatan, tetapi akan mulai lagi ketika ia berhenti mengkonsumsi Goserelin. Wanita usia menopause (sekitar 50 tahun) mungkin tidak akan pernah mulai mengalami menstruasi lagi. Efek samping mungkin termasuk perubahan suasana hati, masalah tidur, berkeringat, dan rasa panas.

Pengobatan Biologis (Obat yang Ditargetkan)

Trastuzumab (Herceptin)
Antibodi monoklonal ini menargetkan dan menghancurkan sel-sel kanker yang HER2-positif. Beberapa sel kanker payudara menghasilkan sejumlah besar HER2 (reseptor faktor pertumbuhan); Herceptin menargetkan protein ini. Kemungkinan efek samping Yang dapat terjadi termasuk ruam kulit, sakit kepala, dan/atau kerusakan jantung.

Lapatinib (Tykerb)
Obat ini menargetkan protein HER2. Ia juga digunakan untuk pengobatan kanker payudara metastatik lanjut. Tykerb digunakan pada pasien yang tidak merespon dengan baik untuk Herceptin. Efek sampingnya termasuk tangan nyeri, nyeri pada kaki, ruam kulit, sariawan, kelelahan ekstrim, diare, muntah, dan mual.

Bevacizumab (Avastin)
Obat ini bekerja menghentikan sel-sel kanker dari menarik pembuluh darah baru, sehingga efektif menyebabkan tumor kekurangan nutrisi dan oksigen. Efek sampingnya termasuk gagal jantung kongestif, hipertensi (tekanan darah tinggi), kerusakan ginjal, kerusakan jantung, pembekuan darah, sakit kepala, sariawan. Meski tidak disetujui oleh FDA untuk digunakan ini, dokter mungkin meresepkan tersebut "off-label". Menggunakan obat ini untuk kanker payudara adalah kontroversial. FDA pada tahun 2011 mengatakan bahwa Avastin tidaklah efektif atau aman untuk kanker payudara.

Peneliti Swiss menemukan bahwa Avastin hanya menawarkan manfaat sederhana terkait perkembangan penyakit pada wanita dengan kanker payudara stadium lanjut. Mereka menambahkan bahwa ia tidak memiliki dampak pada kelangsungan hidup si pasien itu sendiri.

Aspirin Dosis Rendah
Penelitian yang dilakukan pada tikus laboratorium dan tabung reaksi menunjukkan bahwa aspirin dosis rendah secara teratur dapat menghentikan pertumbuhan dan penyebaran kanker payudara.

Para ilmuwan dari Veterans Affairs Medical Center di Kansas City dan University of Kansas Medical Center menjelaskan bahwa tes mereka pada jalur kanker dan pada tikus menunjukkan bahwa aspirin tidak hanya memperlambat pertumbuhan sel kanker dan membuat tumor menyusut jauh, tetapi juga menghentikan metastasis (penyebaran kanker ke situs baru).

Penelitian mereka melibatkan penilaian atas efek aspirin pada dua jenis kanker, termasuk kanker payudara agresif "triple-negatif" yang resisten terhadap pengobatan terbaru.

Pegiat kanker memperingatkan bahwa meskipun hasil saat ini menunjukkan janji besar, penelitian ini adalah pada tahap yang sangat awal dan belum terbukti efektif pada manusia.

PREVIOUS:
                                                  
NEXT:
Share this article :
 
Comments
0 Comments

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. info-kes.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger