Apakah Obesitas Mempengaruhi Prestasi Anak di Sekolah?


Anak-anak dan remaja yang menaglami kelebihan berat badan (obesitas) menghadapi masalah kesehatan potensial ketika mereka semakin dewasa, termasuk peningkatan risiko diabetes, serangan jantung, dan beberapa jenis kanker. Seakan itu belum cukup, obesitas juga dapat membahayakan prospek jangka panjang anak-anak muda dalam perguruan tinggi dan karirnya di kemudian hari.

Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar penelitian telah menyatakan bahwa obesitas berhubungan dengan prestasi akademik disekolah, bahkan sejak TK. Penelitian telah menemukan bahwa siswa dengan obesitas - dan terutama perempuan - cenderung memiliki nilai tes lebih rendah dari rekan-rekan mereka yang lebih ramping, bahkan mungkin tidak naik kelas, dan cenderung tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.

Studi terbaru tersebut, dipublikasikan dalam jurnal Child Development, yang diikuti oleh 6.250 anak dari TK sampai kelas lima dan menemukan bahwa mereka yang mengalami obesitas selama periode tersebut mendapatkan skor lebih rendah pada tes matematika daripada anak-anak non-obesitas.

Terlebih lagi, pola ini terjadi bahkan setelah para peneliti memperhitungkan dengan memperlunak faktor yang dapat mempengaruhi, baik ukuran tubuh maupun hasil tes, seperti keluarga, ras, pendapatan, tingkat pendidikan ibu dan status pekerjaan, dan harapan kedua orang tuanya terhadap prestasi anak di sekolah.

"Pada anak laki-laki dan perempuan yang masuk TK dengan masalah berat badan, kami melihat nilai yang buruk dalam pelajaran matematika muncul pada kelas satu dan bertahan hingga kelas lima," kata ketua peneliti Sara Gable, Ph.D., seorang profesor gizi dan fisiologi olahraga di University of Missouri-Columbia.

Secara keseluruhan terdapat kesesuaian temuan dengan bukti yang telah ditemukan lebih dari satu dekade. "Saya pikir sudah ada kesepakatan bahwa ada hubungan antara obesitas atau kebugaran fisik dengan pencapaian akademik," kata Rebecca London, Ph.D., seorang peneliti senior di Stanford University's Gardner Center for Youth and Their Communities, di Stanford, California.

Tapi London dan ahli obesitas anak lainnya mengingatkan bahwa hubungan ini muncul jauh lebih rumit daripada tampaknya. Tidak ada yang tahu pasti mengapa obesitas dan prestasi sekolah terkait, atau apakah salah satunya langsung mempengaruhi yang lain.

Kemudian London melanjutkan, "Apakah keadaan yang sebenarnya dari obesitas – kelebihan berat badan - yang entah bagaimana mempengaruhi prestasi siswa, atau sesuatu yang terkait dengan obesitas, namun bukan berat badan?".

Para peneliti telah mencoba untuk menjawab pertanyaan ini dengan beberapa cara berbeda. Dalam sebuah penelitian di tahun 2011 dari siswa di California, misalnya, London dan rekan penulis berfokus pada kebugaran fisik dan menemukan bahwa kebugaran secara keseluruhan, tidak hanya indeks massa tubuh (BMI) tetapi juga kekuatan dan daya tahan, adalah prediktor yang lebih baik dari prestasi akademik.

Penelitian lain, yang juga diterbitkan tahun lalu, menghasilkan sebuah temuan yang sama: persepsi diri remaja mengenai berat badan mereka - yaitu, apakah mereka melihat diri mereka sebagai obes – memiliki pengaruh lebih kuat terkait dengan prestasi akademis daripada BMI, menunjukkan bahwa harga diri dan faktor lain yang tak berwujud mungkin memiliki pengaruh besar.

Studi baru mengambil langkah lain dengan melihat keterampilan sosial anak-anak dan tanda-tanda lahiriah dari kecemasan, kesedihan, kesepian, atau rendah diri (seperti yang diamati oleh guru dan orang tua). Siswa obesitas umumnya nampak lebih kesulitan emosional daripada rekan-rekan non-obesitas mereka, dan perempuan obesitas - tapi tidak anak laki-laki - juga nampak memiliki keterampilan sosial yang rendah. Meskipun hasilnya tidak jelas, Gable dan rekan-rekannya menyimpulkan bahwa perbedaan-perbedaan ini sebagian menjelaskan nilai matematika yang rendah dari para siswa obesitas.

"Keterampilan sosial dan emosional tampaknya berada di tengah hubungan itu," kata Becky Hasyim, Ph.D., seorang psikolog klinis anak di Rumah Sakit Anak Montefiore, di New York City, yang tidak terlibat dalam studi.

Tetapi sekali lagi, tidak jelas apakah obesitas menyebabkan masalah emosional atau sebaliknya. Di satu sisi, Hasyim mengatakan, obesitas dapat melemahkan kemampuan sosial jika seorang anak menjadi terisolasi akibat intimidasi atau stigmatisasi. Di sisi lain, ia menambahkan, keterampilan sosial yang buruk bisa menyebabkan kesedihan, yang dapat menyebabkan kebiasaan makan yang buruk dan menyebabkan kenaikan berat badan jika seorang anak berpaling kepada makanan untuk kenyamanan.

" Perasaan sedih atau kesepian atau kecemasan di dalam dan dari diri mereka sendiri mungkin menghalangi prestasi sekolah," kata Hasyim. "Mungkin lebih sulit untuk memperhatikannya. Anak-anak ini mungkin kurang suka untuk mengajukan pertanyaan."

Masalah sosial dan emosional mungkin bukanlah akhir dari cerita. Ada juga kemungkinan bahwa beberapa masalah kesehatan yang berhubungan dengan obesitas - seperti asma, diabetes, dan gangguan tidur - dapat mengganggu anak-anak atau menyebabkan kehilangan waktu di kelas, Gable mengatakan.

Sebagai contoh, katanya, anak gemuk "yang juga memiliki gangguan tidur mungkin tidak mendapatkan cukup tidur yang berkualitas di malam hari, sehingga dapat mengganggu proses belajar." (Gable dan rekan-rekannya tidak memiliki data mengenai kesehatan siswa atau absensi tetapi menyoroti kemungkinannya untuk penelitian masa depan.)

Bahkan lebih dalam lagi, kelebihan berat badan atau kurang aktivitas fisik mungkin melemahkan kemampuan otak anak pada tingkat sel, yang menyebabkan peradangan dan proses biologis berbahaya, kata Robert Siegel, MD, direktur Center for Better Health and Nutrition, sebuah klinik obesitas anak Rumah Sakit Anak di Cincinnati. "Obesitas mempengaruhi hampir semua sistem organ dalam tubuh, termasuk otak," kata Siegel. "dan mungkin memiliki efek pada perkembangan pikiran."

Pada akhirnya, London mengatakan, para peneliti mungkin akan menetapkan bahwa beberapa kombinasi dari faktor-faktor ini, bukan hanya dari satu, menjelaskan hubungan antara obesitas dan prestasi akademik. Mencari tahu bagaimana faktor-faktor tersebut bekerja sama tidak akan mudah dan tidak akan terjadi dalam semalam, ia menambahkan.

Kekurangan relatif dari penelitian mungkin mencerminkan kecenderungan yang lebih besar dalam masyarakat untuk memikirkan prestasi akademisi dan kesehatan sebagai alam yang terpisah.

"Sampai saat ini, sebagian besar sekolah lebih memilih untuk meningkatkan kinerja akademik di kelas, tanpa melihat gambaran besar," kata Siegel. "Pendidikan dan aktivitas fisik memainkan peran yang sangat, sangat penting dan akhirnya akan mengarah pada prestasi yang lebih baik dalam akademis."

Sebuah pertanyaan penting belum terjawab oleh studi baru, yang diikuti anak-anak hanya sampai sekitar usia 11 tahun, adalah apakah interaksi awal antara obesitas dan kinerja sekolah usia anak-anak akan terus terjadi hingga sekolah menengah, sekolah tinggi, dan seterusnya.

"Ada alasan untuk berpikir bahwa ada akumulasi efek negatif bagi anak-anak yang memulai TK berjuang dengan obesitas dan yang terus berjuang," kata Gable. "Kita perlu mengatasi masalah efek kumulatif ini."

Semoga bermanfaat dan dapat di-share dengan yang lain… J
Share this article :
 
Comments
1 Comments

+ comments + 1 comments

18 Oktober 2012 13.10

Terimakasih Infonya
sangat bermanfaat..
Perkenalkan saya mahasiswa Fakultas Kedokteran di UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA Yogyakarta
:)

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. info-kes.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger